Nining Suryaningsih

Guru Bahasa Inggris SMP di Bandung Barat ini tak pernah merasa bisa menulis, sampai akhirnya MediaGuru mendongkrak rasa percaya dirinya untuk menghasilkan karya...

Selengkapnya
Rani dan Diari (3)

Rani dan Diari (3)

Part 3

“Baik, teman, kita sudahi rapat kita ini. Saya harap setiap seksi memberi laporan progressnya Senin ya. Selamat berakhir pekan,” kata-kata Kak Akbar menutup rapat Jumat itu.

“Kak Rani, mau pulang sekarang?” tanya Nindi, sesama pengurus OSIS dari kelas 11 IPS 3.

“Oh, tadinya sih gitu, tapi kalau kamu buru-buru kamu duluan aja, hari sudah agak gelap, khawatir kamu kejebak macet. Rumahmu kan lebih jauh dari rumahku walau kita searah. Kakak mau ke toilet dulu,” terang Rani.

“Oh gitu? Gapapa kakak pulang sendiri? Ntar ada yang godain lho di jalan, hehehe ...,” tanya Nindi sambil menggoda Rani.

“Nanti Kakak temani Kak Rani pulang, Nin,” ujar suara seseorang tiba-tiba.

“Eh, Kak Haryo. Ya, Kak. Saya duluan ya, Kak Rani,” ucap Nindi sambil menoleh ke arah Rani yang tampak berdiri mematung. Tak lupa Nindi mengerdipkan matanya genit.

“Kamu ..., ngapain di sini?” tanya Rani pada Haryo.

“Kamu lupa ya, Ran. Aku tadi memintamu tetap di taman sampai aku selesai shalat Jumat. Aku cari kau di sana tapi kamu gak ada. Aku ingat kamu OSIS dan si Dendy yang biasa pulang bareng sama aku bilang ada rapat OSIS di kelas 11 IPS 3,” jawab Haryo panjang lebar.

Rani tampak jadi salah tingkah. Ia tahu Dendy yang jadi koordinator pertandingan basket biasa pulang bareng Haryo karena rumah mereka berdekatan.

“Eh ..., aku tadi ..., anu ...,” Rani sulit mencari kata-kata untuk menutupi hatiya yang tak menentu.

“Kita ngobrol sambil jalan yuk. Eh, katanya kamu mau ke toilet. Aku temani sampai depan belokan ke toilet ya. Gak mungkin aku ikut masuk kan?” Haryo mencoba berseloroh setelah menyadari Rani yang biasanya pandai berdebat seperti tercekat mengetahui dirinya menunggu Rani hingga usai rapat OSIS.

“Kamu gak kesel nungguin aku selama itu? Ini sudah jam 3 lho,” kata Rani saat mereka berjalan menuju toilet.

“Dua jam itu sebentar, apalagi untuk mendapatkan kepastian ...,” Haryo tak melanjutkan kata-katanya.

Tiba-tiba Rani memegang tangan Haryo sambil berkata, “Eh, aku titip tas dulu ya. Gak lama kok, paling 5 menit,” Rani tiba-tiba meminta Haryo memegangi tasnya.

Belum sempat Haryo mengiyakan permintaan Rani si gadis sudah masuk ke toilet khusus wanita.

“Haryo yang memegang tas Rani melihat resleting tas Rani yang sedikit terbuka. Ingin rasanya dia membuka isi tasnya. Ah, tapi tak mungkin dia melakukan itu. Ntar dia dikira cowok kepo. Namun dia agak penasaran dengan gantungan kunci di tas Rani. Ada tulisan Har di satu sisi dan tulisan Ran di sisi lain. Gantungan kunci dari kayu itu unik, sepertinya dipesan khusus. Haryo ingat beberapa bulan lalu kelas 12 IPS 1 pergi study tour ke Taman Mini. Di sana ada outlet khusus pengrajin gantungan kunci kayu yang bisa diminta membuatkan gantungan kunci dengan bentuk khusus atau dengan huruf khusus.

Haryo tertegun sambil menebak-nebak kata HAR dan RAN yang ada di dua sisi gantungan kunci itu.

“Har, kembalikan tasnya,” suara merdu Rani tiba-tiba membuyarkan lamunan Haryo.

“Tidak, sebelum kamu cerita huruf-huruf di gantungan kunci ini. Kok seperti nama kita?”

Muka Rani memerah. Dia lantas berusaha merebut tas di gengggaman Haryo. Namun Haryo lebih gesit lagi untuk menghindar.

“Ran, apa itu aku dan kamu?” tanya Haryo menyelidik.

“Kembalikan tasku, Har. Please ...,” Rani mengiba. Dia tampak makin manis dengan air muka memelas. Selama ini Haryo tak pernah melihat gadis ini dengan wajah seperti itu. Rani tipe cewek tegar. Dia tak pernah terlihat GR di depan cowok. Apalagi pasang muka memelas sepeti sekarang.

“Aku akan kembalikan asal kamu cerita apa makna huruf-huruf itu,” tegas Haryo. Entah dari mana dia mendapat keberanian untuk sedikit memaksa pada Rani. Haryo biasanya tak tega berkata agak keras kepada perempuan mana pun.

“Har, jangan gitu dong. Aku dapet itu dari Heti. Please kembalikan tasku. Kalau kamu mau, ambil saja gantungan kuncinya. Aku gak butuh kok,” kata-kata itu mengejutkan Haryo.

“Gak butuh? Kok digantung di resleting tasmu? Pasti penting dong. Ya, gak?” desaknya.

Rani menunduk. Mukanya memerah.

“Aku dapet dari Heti saat ultahku 3 minggu lalu. Heti bilang ..,” Rani tak segera meneruskan kalimatnya.

“Heti bilang apa?” Haryo bertanya lagi penasaran.

“Heti bilang ..., Bayu cerita kalau ..., kalau kamu ..., kamu suka merhatiin aku. Dulu aku ragu karena kamu tak pernah terlihat lebay seperti cowok-cowok lain yang menggoda atau mencari perhatian cewek. Tapi buku diarimu yang kutemukan tadi ...,” Rani menghentikan kata-katanya.

“Ooh, Bayu .... Ah anak itu tak bisa pegang rahasia,” ujar Haryo sambil menepuk dahinya.

“Jadi ...?” tanya Rani menatap Haryo.

“Eh, jadi apa?” tanya Haryo baru menyadari kalau Rani sedang menunggu jawabannya.

“Yang di bukumu itu nama Rani yang ...,” belum sempat Rani meneruskan pertanyaannya Haryo menyodorkan tas yang sedari tadi dipegangnya.

“Ya, itu kamu, Ran,” dengan tegas Haryo berkata. Dia tampaknya tahu ke mana arah pertanyaan Rani. Entah angin apa yang membuat Haryo jadi sangat berani mengungkapkan perasaannya.

“Aku suka kamu, Ran, sejak kita naik kelas 12. Tapi aku ragu untuk mengungkapkannya. Aku khawatir kamu akan mencapku sebagai cowok-cowok penggoda. Tapi sekarang aku harus memberanikan diri mengatakannya. Diari yang kau temukan itu ternyata mentakdirkanku untuk berani mengungkapkannya. Aku siap dengan risiko dicap apa pun sama kamu.”

Rani tampak mematung, walau sebenarnya dia sedang mengatur diri agar air muka bahagia sedari siang tadi bisa dia sembunyikan agar tak terbaca oleh Haryo. Namun sepandai-pandainya Rani menyembunyikan perasaannya Haryo yang menatap lekat Rani bisa menangkapnya juga.

“Jadi, kamu mau jalan sama aku?” tanya Haryo memecah kesunyian sore itu.

“Eh, jalan ...? Kan emang kita mau jalan, menuju gerbang dan mau pulang,” jawab Rani mencoba bercanda.

“Ah kamu, Ran. Bisaaa aja menghindar. Tapi aku yakin kamu juga apunya perasaan seperti perasaanku sama kamu. Ya, kan?”

“Yuk, pulang,” ajak Rani tanpa menjawab pertanyaan Haryo.

Haryo pun mengikuti langkah kaki Rani. Dia lalu mempercepat langkahnya agar bisa nsejajarkan dirinya berjalan di sebelah Rani.

Sambil berjalan Rani hanya diam. Haryo pun tak bicara. Namun sesekali dia melirik Rani yang berjalan di sisinya. Satu hal yang membuat Haryo yakin adalah Rani tak menolaknya. Dia pun melihat raut muka yang Rani yang tampak senang berjalan di sisinya menyusuri koridor menuju gerbang sekolah.

TAMAT

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali